Menjaga Eksistensi di Industri Pakan Ikan

Herry

Januari 15, 2020

Kehadiran para pemain baru di industri pakan ikan dan udang memberikan keuntungan sekaligus tantangan bagi para stakeholders-nya. Terutama bagi para perusahaan pakan itu sendiri dan para pembudidaya sebagai penggunanya

Beberapa tahun terakhir, industri pakan ikan dan udang di Indonesia tampaknya dilirik sebagai industri yang seksi. Beberapa perusahaan baru berdatangan ingin ikut menikmati kue pertumbuhan produksi perikanan nasional. Meski belum menggeser dominasi para pemain lama, munculnya merk-merk pakan baru ini bisa merubah peta persaingan industri pakan dalam negeri. 

Di luar industri pakan skala besar, menjamur juga pelaku-pelaku usaha pakan mandiri. Mereka yang biasanya merangkap sebagai pembudidaya, ingin membuat alternatif pakan yang lebih terjangkau dari pakan komersil dengan memanfaatkan bahan baku lokal. Di sisi lain, industri pakan global saat ini sedang mengalami tantangan serius soal keberlanjutan bahan baku. Terutama tepung dan minyak ikan yang pasokannya mulai terbatas akibat overfishing (tangkap lebih). 

Efek Tren Produksi Ikan

Jika dilihat dari sisi kebutuhan pakan ikan nasional pada 2017 – 2019, kebutuhan pakan ikan mencapai 8,65 juta ton; 9,66 juta ton; dan 10,80 juta ton. Hal ini menunjukkan tren kenaikan permintaan pakan ikan oleh para pelaku pembudidaya ikan. Kondisi tersebut juga menunjukkan bahwa industri pakan ikan dan udang nasional cukup menggiurkan bagi produsen pakan pabrikan dan pakan mandiri. 

Sementara itu, menurut data Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), data produksi pakan ikan pabrikan pada 2017 – 2018 hanya 1,55 juta ton – 1,65 juta ton. Sedangkan total produksi pakan mandiri yang tersebar di 24 provinsi di 2018, menurut Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) hanya mencapai 26.546 ton. Dilihat dari disparitas permintaan dan kondisi produksi pakan yang ada, telah menggambarkan cukup besarnya peluang permintaan pakan ikan saat ini.

Jika dilihat dari sisi permintaan yang cukup besar itu, wajar seandainya banyak perusahaan pakan pendatang baru yang mencoba peruntungan dalam industri pakan ikan dan udang di Indonesia. Ada beberapa hal yang menyebabkan mereka mau masuk di industri ini. Antara lain, karena adanya permintaan pakan ikan yang cukup besar untuk kebutuhan budidaya ikan  yang berkaitan langsung dengan peningkatan produksi ikan budidaya dari tahun ke tahun. Yang imbasnya terhadap kebutuhan pakan ikan tersebut.

Apakah kehadiran para pemain baru pakan ikan dan udang ini dapat diterima oleh para pembudidaya, sangat tergantung oleh beberapa faktor. Antara lain faktor efisiensi dan kualitas pakan yang dibuatnya, faktor harga pakan, dan faktor kemudahan mendapatkannya. Ketiga faktor tersebut saling memiliki keterkaitan bagi pelaku pembudidaya untuk mempertimbangkan pembelian pakan.  

Kemunculan para pelaku baru di industri pakan ikan dan udang nasional mendatangkan keuntungan sekaligus tantangan bagi stakeholders terkait. Terutama pabrikannya itu sendiri dan para pembudidaya. Keuntungan dari semakin ramainya industri ini bagi para pembudidaya adalah banyaknya pilihan dalam membeli pakan, baik dilihat dari segi kualitas pakan, harga pakan dan kemudahan dalam memperolehnya. Sementara keuntungan bagi produsen pakan sendiri adalah adanya kemudahan untuk mendapatkan informasi tentang kualitas pakan yang diproduksinya dibandingkan dengan kompetitornya.

Sementara, tantangan bagi para pembudidaya adalah mereka dituntut untuk lebih teliti dalam membeli pakan berkualitas dengan harga yang sesuai. Tujuannya, agar tidak mengalami kerugian ketika menggunakan (meliputi kandungan nutrisi serta informasi hasil uji lapangnya). Di lain sisi, tantangan bagi pabrik pakan adalah mereka dituntut untuk menjaga mutu serta meningkatkannya, dengan tetap menjaga harga agar sesuai dengan daya beli para pembudidaya. 

Gerakan Pakan Ikan Mandiri

Meski pabrik pakan ikan dan udang semakin banyak, tetapi upaya dari para pembudidaya untuk mencari pakan alternatif yang jauh lebih murah tetap ada. Hal ini karena banyak pembudidaya, terutama pembudidaya ikan air tawar yang merasa mahalnya harga pakan yang menjadi komponen biaya terbesar dalam budidaya. Karenanya muncul Gerakan Pakan Ikan Mandiri Nasional (Gerpari Nasional) diantara para pelaku usaha budidaya untuk menyiasati itu. 

Khusus untuk pakan skala rumah tangga (non pabrikan) ini, pertumbuhan dan eksistensi mereka antara lain dipengaruhi oleh adanya program – program yang dibuat oleh pemerintah. Khususnya oleh DJPB yang telah melakukan beberapa terobosan. Baik dari segi regulasi perijinan pakan, maupun dari segi peningkatan kompetensi Sumber daya Manusia (SDM) yang mampu membuat pakan berkualitas melalui kegiatan Gerpari tersebut.  

Dari segi perijinan, setiap produsen pakan dimudahkan melakukan pengujian kualitas pakan pada beberapa laboratorium yang disediakan di UPT DJPB. Serta dimudahkannya proses uji lapang pakan. Dari segi peningkatan kompetensi SDM, dilakukannya program pelatihan pakan mandiri di beberapa UPT DJPB melalui program Gerpari tersebut.

Menjaga Eksistensi

Di tengah persaingan yang begitu sengit, para pelaku usaha di industri pakan perlu memerhatikan beberapa hal agar bisnisnya tetap eksis. Pertama, industri pakan harus menjaga kualitas dan meningkatkan efisiensi pakannya. Kedua, industri juga harus melihat daya beli para pembudidaya khususnya pembudidaya ikan air tawar skala kecil yang memiliki modal terbatas dan jumlahnya cukup banyak. 

Ketiga, perlu adanya peningkatan kerjasama saling menguntungkan yang sudah terjalin dengan para pembudidaya ikan. Caranya, dengan menjamin kestabilan harga pakan. Apalagi disertai adanya jaminan pembelian hasil panen ikan dengan harga yang menguntungkan bagi para pembudidaya. 

Upaya menjaga eksistensi juga perlu dilakukan oleh para pelaku Gerpari. Untuk itu, mereka juga dianjurkan untuk melakukan beberapa strategi. Pertama, Gerpari perlu meningkatkan produksi dan mutu pakan dengan memanfaatkan bahan baku lokal dan alternatif yang ada. Hal ini sudah menjadi kekuatan khas Gerpari saat ini. 

Kedua, Gerpari juga perlu meningkatkan kompetensi dalam membuat pakan ikan dengan mencari bahan baku alternatif seperti penggunaan maggot dengan teknik biokonversi dari bahan baku organik. Antara lain seperti Palm Kernel Meal (PKM) atau limbah buah dan sayuran. Atau dengan memanfaatkan bahan baku fermentasi dari bahan baku limbah bir yang dicampurkan bakteri. Ketiga, Gerpari juga perlu melakukan pengembangan dan inovasi terhadap mesin-mesin pakan yang digunakan agar produksi bisa menjadi lebih berkualitas, efektif, dan efisien.

Dalam peta industri pakan ikan dan udang secara umum, peran yang dapat diberikan oleh Gerpari lebih bertujuan membantu terhadap produsen pakan ikan skala kecil. Yakni, untuk dapat meningkatkan produksi dan menjaga kualitas pakannya agar sesuai dengan Standar Nasioanal Indonesia (SNI), khususnya pakan ikan air tawar. Hal tersebut dapat dilihat sebagai alternatif terhadap permintaan para pembudidaya ikan yang menginginkan harga pakan yang murah dan berkualitas.

*Dosen Program Studi Pengolahan Hasil Laut

Politeknik Kelautan dan Perikanan Pangandaran

Source : http://trobosaqua.com/detail-berita/2020/01/15/41/12605/herry-ssi-msi-menjaga-eksistensi-di-industri-pakan-ikan