InovasiSiaran Pers KKP

KKP Kembangkan SMART KJA

JAKARTA (18/3) – Sumber pencemaran Waduk Kaskade Citarum, Jawa Barat (Jabar), selain berasal dari input sungai yang bermuara di waduk tersebut juga berasal dari kegiatan budidaya ikan dalam Karamba Jaring Apung (KJA). Sisa pakan yang terbuang dan sisa metabolisme ikan dari kegiatan KJA merupakan sumber pencemaran organik. Eutrofikasi adalah salah satu dampak pencemaran organik akibat tingginya konsentrasi fosfor dan nitrogen.  Untuk itu diperlukan suatu teknologi budidaya ikan dalam KJA yang ramah lingkungan sehingga mampu mencegah dan mengendalikan beban cemar tersebut.

Menjawab permasalahan tersebut, salah satu yang dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), melalui Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM), adalah mengembangkan KJA SMART, yaitu singkatan dari KJA Sistem Manajemen Air dengan Resirkulasi dan Tanaman, yang merupakan teknologi KJA ramah lingkungan. Teknologi ini mengadopsi sistem akuaponik yang telah dimodifikasi sehingga dapat diterapkan di perairan waduk dan danau. Prinsip kerja teknologi resirkulasi air dengan memanfaatkan tumbuhan sebagai fitoremidator dan filterisasi yang dapat memperbaiki kualitas air.

Pada Selasa (15/3/2022), Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono melakukan kunjungan kerja ke Waduk Djuanda, Jatiluhur, Jabar, bersama Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan serta Gubernur Jabar Ridwan Kamil. Pada kegiatan tersebut, Menteri Trenggono mengunjungi Balai Riset Pemulihan Sumber Daya Ikan (BRPSDI) BRSDM dan mendapat penjelasan terkait KJA SMART hasil inovasi Balai tersebut.

Di BRPSDI, Menteri Trenggono diperlihatkan miniatur atau maket KJA SMART dan dijelaskan mengenai cara kerja dan keunggulan teknologi tersebut. Ia berharap KJA SMART dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi limbah akibat aktivitas budidaya ikan di Waduk Jatiluhur.

“Permasalahan yang ditemukan di lapangan memang harus segera ditangani dengan baik. KKP siap,” ujar Menteri Trenggono.

Senada, Kepala BRSDM I Nyoman Radiarta mengutarakan bahwa BRSDM telah menghasilkan inovasi-inovasi untuk mengurangi pencemaran di waduk dan danau. Salah satunya melalui teknologi KJA SMART, yang mengintegrasikan antara sistem budidaya ikan dan pertanian (akuaponik) yang telah dimodifikasi, sehingga dapat diterapkan di perairan terbuka, seperti waduk atau danau.

Sementara itu Kepala BRPSDI Iswari Ratna Astuti mengatakan pihaknya telah melakukan penelitian di Waduk Jatiluhur dengan KJA SMART Jaring Ganda. KJA SMART menggunakan kolam yang terdiri dari tiga lapisan dan dilengkapi dengan penampung sisa pakan sehingga mempermudah penyedotan. Percobaan dilakukan sebanyak dua kali, yaitu tanpa dan dengan inkubasi sisa pakan satu minggu. Kemudian, pengamatan kualitas air dilakukan setiap minggu. Sistem fitoremidiasi menggunakan tanaman hidroponik kangkung dan wetland dengan vetiver. Filter fisik terdiri tiga lapisan yaitu pasir, ijuk dan batu kapur.  Pengambilan sampel air dilakukan pada tanki penambung sedotan limbah KJA SMART, pasca kangkung, pasca vetiver, dan pasca filter fisik.

Menurutnya, KJA SMART memiliki berbagai keunggulan. Pertama, sisa pakan dan sisa metabolisme ikan tertampung dan terendapkan di sistem penampungan sisa pakan. Kedua, mengurangi masukan beban pencemaran bahan organik di perairan danau/waduk. Ketiga, tanaman akuaponik dan wetland berfungsi sebagai fitoremidiasi polutan. Keempat, menghasilkan produk tanaman organik. Kelima, dapat menjadi destinasi ekowisata dan eduwisata.

Ratna mengatakan, hasil penelitian yang dilakukan pihaknya menyimpulkan, teknologi KJA SMART mampu mengurangi beban cemar bahan organik, nutrien N dan P dari aktivitas budidaya dalam KJA yang masuk ke perairan. Hal ini berdampak pada terjaganya kualitas perairan.

Turut hadir pula dalam kunjungan kerja di Waduk Jatiluhur antara lain Duta Besar Jerman Ina Lepel, Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika, dan Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana.

HUMAS BRSDM